Solution For The Best Future

KEKAYAAN YANG SESUNGGUHNYA

Suatu ketika, Socrates diminta mengunjungi rumah seorang yang sangat kaya. Di situ, si kaya memamerkan semua kekayaannya.
Rumah yang indah, seperti sebuah istana raja.

Akhirnya, dengan senyuman senang ketika melihat Socrates terkagum-kagum, orang kaya itu berkata, “Akui saja Socrates bahwa engkau merasa iri melihat kekayaan ini!”

Lalu, dengan tenang Socrates berkata, “Memang soal harta aku kagum padamu. Tetapi, seharusnya kamu berkali-kali kagum kepadaku karena aku tidak membutuhkan begitu banyak barang untuk bisa merasa bahagia seperti yang kamu rasakan sekarang!”

Memang, menilai kekayaan melulu dari sisi ekonomi, tidaklah tepat. Itulah persis yang diajarkan oleh Socrates di atas. Karena itulah, menarik sekali jika baru-baru ini, Robin Sharma, penulis serta pembicara terkemuka, mengatakan ada delapan jenis kekayaan yang perlu menjadi pertimbangan untuk betul-betul dikatakan kaya.

Pertama, kekayaan pribadi (inner wealth). Kekayaan ini terkait dengan ketenangan dan kedamaian hati. Banyak orang yang kaya-raya tetapi tidak memiliki ketenangan ini. Hatinya gelisah, tidak pernah puas dan selalu merasa terancam.

Saya teringat kisah film yang menceritakan percakapan seorang anak majikan dengan anak pembantunya yang kebetulan tinggal bersamanya, “Kamu beruntung. Sekalipun kamu miskin tetapi kamu punya orangtua yang selalu bisa bermain bersamamu. Saya memang dikasih banyak uang tetapi orangtuaku tak pernah ada untukku.”

Kedua, kekayaan fisik (physical wealth). Masih ingat dengan pepatah “Banyak orang mencari kekayaan dengan mengorbankan fisiknya. Setelah itu, semua kekayaan yang diperolehnya harus dikorbankan untuk mendapatkan kembali kesehatannya.” Itulah yang dimaksudkan di sini. Tidak ada artinya kita menjadi orang kaya secara ekonomi, tetapi fisik kita sakit-sakitan.

Ketiga, kekayaan keluarga dan sosial (family and social wealth). Tidak ada artinya menjadi kaya, tatkala keluarga kita berantakan. Apalah artinya menjadi kaya ketika hubungan dengan keluarga menjadi penuh intrik, pertengkaran dan rusak. Apalah artinya kaya tatkala anak-anak kita jadi masuk penjara ataupun kita sendiri terancam karena begitu banyak musuh.

Keempat, kekayaan karier (career wealth). Banyak orang bekerja dan menghasilkan banyak uang tetapi dalam pekerjaan yang sebenarnya dibencinya. Hanya lantaran kerjaannya banyak memberikannya uang maka mereka pun bertahan. Namun, pada intinya apa yang mereka kerjakan sebenarnya tidak memberikan mereka kepuasan dan kebahagiaan. Ketika ditanya secara jujur, mereka sebenarnya bosan dan benci dengan kerjaannya.

Uang juga dibutuhkan

Kelima, kekayaan ekonomi. Inilah kekayaan yang banyak dipahami. Bagaimanapun juga, kekayaan ini tampak nyata dari sisi kemajuan ekonomi yang kita miliki. Uang, sering kali menjadi ukurannya. Memang, sering kali dikatakan uang bukan segala-galanya. Namun, bersikap seolah-olah uang tidak kita perlukan, juga sebuah kesalahan fatal. Kenyataan membuktikan, uang kita butuhkan untuk memenuhi banyak hal yang kita butuhkan dalam kehidupan kita. Sayangnya, banyak orang yang melihat ekonomi ini sebagai satu-satunya ukuran kekayaan dan inilah yang menyesatkan.

Keenam, kekayaan hubungan dan pergaulan. Kita sering kali ditentukan oleh network dan hubungan yang kita bangun. Persahabatan dan hubungan kita adalah kekayaan yang penting. Kita bisa saja jatuh miskin, tetapi selama kita mempunyai jaringan yang bisa mendukung kita, maka kita tidak akan pernah terpuruk. Kekayaan hubungan dan pertemanan juga penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis, juga kualitas hidup.

Ketujuh, kekayaan pengalaman. Banyak orang yang secara ekonomi mapan tetapi miskin dalam hal pengalaman. Mereka tidak pernah ke mana-mana karena takut. Mereka tidak mempunyai pengalaman yang kaya karena banyak dibatasi oleh berbagai ketakutan dan kekhawatiran.

Kedelapan, terakhir adalah kekayaan pengaruh sekitarnya. Ada banyak sekali orang kaya yang hanya menikmati kekayaan untuk diri dan keluarganya. Dengan cara demikian, mereka menghidupi kekayaan mereka secara egois. Orang-orang sekitarnya, tidak merasa adanya dampak yang positif dari kekayaan yang mereka miliki.

Saat orang-orang kaya ini meninggal, tidak banyak orang di sekitarnya yang merasa kehilangan. Ia sendiri tidak terlalu ditangisi. Masalahnya, kekayaan yang mereka kumpulkan hanya mereka nikmati sendiri dan tidak menjadi berkat bagi orang lain. Banyak orang yang berpikir, “Saya sudah susah mengumpulkan kekayaan saya kenapa harus saya berikan begitu saja bagi orang lain.”

Mereka pun berpikir akan bisa menikmati kekayaan mereka sendiri. Namun, pada kenyataan, hingga mereka meninggal, kekayaan ini tetap tidak membuat mereka merasa sejahtera.

Dengan becermin dari kedelapan kekayaan ini, mari kita renungkan: apakah kita sungguh-sungguh mempunyai kekayaan dalam arti yang sesungguhnya? Di sisi lain, jangan juga kita cepat mengecap seseorang itu miskin. Boleh jadi secara ekonomi mereka memang miskin, tetapi ada bagian lain di mana mereka justru lebih kaya dari Anda!

(SUMBER :JIBI/Bisnis Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s