Solution For The Best Future

Terbaru

DIRGAHAYU HUT RI KE-66 (17 AGUSTUS 2011)


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العلمين، حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده، يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد النور الذاتى والستر السارى فى سائر الإسماء والصفات وعلى آله وصحبه اجمعين

Ya Allah Ya Tuhan kami, lantaran rahmat dan karunia-Mu, pada hari ini, rabu tanggal 17 Agustus 2011, Bangsa Indonesia dapat memperingati kembali kemerdekaannya.

Ya Allah yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah, demi nama-nama agung-Mu yang indah, demi sifat-sifat-Mu yang maha indah, demi ciptaan-ciptaan-Mu yang serba indah, anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami kepekaan menangkap dan menyukuri keindahan anugerah-mu, keindahan merdeka dan kemerdekaan, keindahan hidup dan kehidupan, keindahan manusia dan kemanusiaan, keindahan kerja dan pekerjaan,    keindahan   sederhana    dan kesederhanaan, keindahan damai dan kedamaian, keindahan kasih sayang dan saling menyayangi, keindahan bijaksana dan keadilan, keindahan rasa malu dan tahu diri, keindahan hak dan rendah hati, keindahan tanggung jawab dan harga diri.

Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami akan kemampuan menyukuri nikmat-Mu dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridloi. Selamatkan jiwa-jiwa kami dari noda yang mencoreng martabat kami. Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami dan bangsa kami ke jalan indah menuju cita-cita kemerdekaan kami, teguhkanlah iman dan keikhlasan kami untuk melawan rayuan sesaat yang membuat kami sesat, kuatkanlah lahir batin kami dari godaan-godaan yang menyeret diri kami dari keindahan sejati, kemanusiaan dan kemerdekaan kami. Merdekakanlah kami selalu dari belenggu penjajah siapa saja dan apa saja selain Allah termasuk oleh diri kami sendiri. Kokohkanlah jiwa raga kami untuk menjaga keindahan negeri kami.

Yaa Qowiyu Yaa Matiin. Wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Cabutkanlah kami bila berada di jalan yang salah dan lipat gandakanlah bila kami berada di jalan yang benar, janganlah biarkan hak dan kewenangan memaksakan kekejaman dan kekerasan dalam kekuatan dan keperkasaan kami.

Yaa Lathifu Yaa Sobur. Wahai Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Sabar. Jangan biarkan kewajiban dan tanggung jawab menyusupkan kelemahan dan kemalasan dalam kelembutan dan kesabaran kami.

Yaa Azzizu Ya Jabbar. Yaa Allah Yang Maha Menang dan Maha Penakluk. Jangan biarkan nafsu dan amarah menaklukan nurani kami.

Yaa Malikul Mulk. Yaa Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur. Jangan kuasakan atas kami karena dosa-dosa kami, penguasa-penguasa yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami, kuasakan atas kami penguasa-penguasa yang (رحمة للإندونيسيين) bukan (لعنة للإندونيسيين ).

Yaa Nuur. Wahai Maha Cahaya di atas segala cahaya. Pancarkanlah cahaya-Mu di mata dan pandangan kami, pancarkanlah cahaya-Mu di teling dan pendengaran kami, pancarkanlah cahaya-Mu di mulut dan perkataan kami, pancarkalah cahaya-Mu di hati dan perasaan kami, pancarkanlah cahaya-Mu di kanan dan kiri kami. Pancarkanlah cahaya-Mu di atas dan di bawah kami, pancarkanlah cahaya-Mu di nafas dan urat nadi kami, agar kami dapat menangkap jalan lurus-Mu dan menurutinya agar kami dapat menangkap jalan yang sesat dan menghindarinya.

Pancarkanlah cahaya-Mu Yaa Maha Cahaya. Sinarkan dan jangan sisakan sekelumit pun kegelapan di bathin kami. Yaa Maha Cahaya, jangan biarkan ujub dan takabbur, boros dan kikir, kecut dan nekat, kejam dan serakah, pamer dan riya’, dusta dan kemunafikan, lalim dan tega hati, gila dunia menuju lupa diri dan lupa akhirat, serta bayang-bayang hitam lain yang menutup pandangan kami dari keindahan-Mu, menghalangi kami mendapat kasih wajah-Mu, menghambat kami sampai kepada-Mu.

Yaa Allah Yang Maha Pengasih. Kami sangat mencintai negeri indah anugerah-Mu ini, maka bimbing kami dan para pemimpin kami agar kami dapat merawat dan melanjutkan membangun negeri ini sesuai ridlo-Mu.

ربنا آتنا من لدنك رحمة وهيءلنا من أمرنا رشدا، ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العلمين

Terimalah konsekuensi pilihanmu

Seorang wanita di San Diego merasa terganggu sekali oleh anjing tetangganya. Setiap malam ia merasa tidak bisa tidur karena lolongan anjing tetangganya itu. Akhirnya, dalam kemarahannya, ia mencari nomor telepon tetangganya dan setiap malam, dia menelepon tetangganya tersebut, hanya dengan sebuah pesan, “AUUUUUU….” suara melolong di telepon, lalu kemudian ditutup.

Tetangganya yang merasa terganggu oleh telepon itu, lalu melapor ke polisi. Ketika polisi melacak dan menemukan bahwa peneleponnya adalah tetangganya yang terganggu, si tetangga yang menelepon itu pun ditanya mengapa ia melakukannya.

Jawabannya sederhana, “Kalau saya tak bisa tidur, jangan harap ia juga bisa tidur!’. Dari kepolisian, ka sus ini pun diangkat ke meja hijau. Untungnya si hakim cukup bijak sehingga, keputusan pun diambil.

Si anjing tidak boleh lagi berada di sekitar kawasan itu. Namun, si tetangga yang mengganggu lew ttelepon pun dihukum kerja sosial beberapa bulan karena mengganggu privasi orang dengan pilihannya membalas dendam melalui telepon lolongan anjingnya’ itu.

Menurut ilmu Kecerdasan Emosional, setiap orang punya pilihan atas tindakan yang ia lakukan. Pada dasarnya, setiap tindakan punya konsekuensi. Si hakim menghukun si tetangga yang jahil dengan tepeon itu karena alasan yang sederhana.

Sebenarnya, dia sendiri bisa melakukan beberapa langkah pilihan: menelepon polisi, menegur tetangganya, menjadikan tetangganya sebagai teman lalu membujuknya pelan-pelan untuk menaruh anjingnya di tempat yang tak mengganggu, serta masih banyak langkah lainnya.

Sayangnya, semua pilihan yang lebih positif tidak ia dilakukan, justru yang ia pikirkan adalah balas dendam. Sebuah pilihan salah yang membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Untungnya, yang diterima hanya hukuman kerja sosial. Kisah ini mengawali soal pentingnya memikirkan suatu konsekuensi tindakan sebelum sebuah langkah diambil!

Kisah sebaliknya

Sebaliknya, ada pula kisah yang bertolak belakang dari kisah di atas. Suatu ketika, ada seorang peternak yang memiliki peternakan domba. Sayangnya, domba-domba ini selalu ditakut-takuti dan bahkan digigit hingga terluka oleh anjing tetangganya yang dilepaskan di halaman.

Berbulan-bulan, kejadian ini menjadi masalah bagi peternak yang memelihara domba-domba itu. Akhirnya, karena tidak tahan lagi, ia pun pergi menemui seorang hakim dan meminta si hakim untuk menghukum tetangga serta anjingnya itu.

Si hakim yang bijak, menganggukangguk lantas memberikan jawaban kepada peternak yang marah itu, “Pak, saya bisa saja menjatuhkan hukuman yang berat kepada tetanggamu itu. Tetapi akibatnya, jadi bermusuhan. Saya menyarankan, ketika dombamu mulai mempunyai anak, berikanlah satu ekor kepadanya sebagai tanda persahabatan.”

Awalnya, si peternak itu tentu saja menolak karena sudah telanjur merasa jengkel dengan tetangganya tersebut, tetapi si hakim kelihatannya sangat percaya dengan sarannya. Akhirnya, si peternak itu pun diminta segera melakukan apa yang disarankannya.

Ketika domba kecil itu diberikan pada tetangganya apa yang terjadi adalah suatu akhir yang menyenangkan. Segera, persahabatan dan keakraban menjadi semakin baik di antara mereka.

Lantas, karena tetangganya pun melepaskan domba kecilnya di halaman, maka untuk menjaga domba itu dari gigitan anjingnya sendiri, si anjing itu pun segera dirantainya. Dengan demikianlah, anjing itu pun tidak bisa mengganggu domba si peternak itu. Masalah pun selesai.

Ada pilihan, ada konsekuensi

Kedua kisah di atas sebenarnya mengajarkan kepada kita soal konsekuensi pilihan dari kata-kata, sikap serta tindakan kita. Salah satu prinsip penting yang bisa kita terapkan adalah realita bahwa kita sebenarnya punya banyak pilihan atas apa reaksi yang ingin kita berikan.

Kita ambil contoh. Tatkala hujan turun sebelum kita berangkat kerja, kita bisa bereaksi berbagai macam. Kita bisa mulai dengan mengumpat, menggerutu, tidur lagi, cari alas an untuk sakit, mencari payung atau bersyukur karena kita ‘nggak’ akan kepanasan dan tetap berangkat kerja dengan semangat.

Semuanya bergantung pada pilihan kita. Begitu pula, saat misalnya, kita tidak dipromosikan tetapi rekan kita yang kita anggap ‘saingan’ justru yang dapat promosi. Maka, reaksi kita pun bisa beragam.

Kita bisa mulai bereaksi dengan cara memaki-maki atasan, keluar dari perusahaan, diam seribu bahasa, diam-diam menyabotase, menyebarkan gosip, bersikap negatif di kantor, memusuhi rekan Anda tersebut, pergi ke dukun, berusaha mencari cara mencelakakan rekan Anda itu, menerima kenyataan itu apa adanya, berusaha lebih gitu untuk me ning katkan kemampuan Anda, tetap positif, dan masih banyak cara yang bisa Anda lakukan.

Intinya, menghadapi berbagai situasi yang Anda alami, Anda punya banyak pilihan. Tentunya, yang perlu diingat, dari setiap pilihan tersebut, ada konsekuensinya.

Kembali pada contoh di atas. Tatkala kita memilih untuk mengeluh dan menggerutu ketika terjadi hujan sebelum berangkat kerja, mungkin konsekuensi yang didapatkan adalah hari yang tak menyenangkan.

Kita jadi murung dan uringuringan. Begitu pula, tatkala kita memilih untuk mencelakakan rekan kita yang dipromosikan, kita mungkin mengambil risiko terkena balasannya.

Misalkan, baru-baru ini ada seorang pebisnis di Kalimantan yang memutuskan untuk membayar preman untuk memukuli saingan bisnisnya. Akibatnya, si pebisnis yang memanggil preman tersebut kini mendekam di penjara atas idenya memukuli saingan bisnisnya itu. Jadi ingatlah, setiap kali kita membuat pilihan dalam pilihan itupun terdapat konsekuensi-konsekuensi yang mesti kita tanggung pula.

Bagaimana membuat pilihak bijak?

Pertanyaan penting di sini, bagaimanakah kita bisa membuat pilihan-pilihan yang bijak dalam kehidupan kita?

Pertama-tama, adalah memikir kan dan merenungkan sejenak. Ambillah waktu untuk merefleksikan ketika suatu pilihan diambil, apa konsekuensinya yang mungkin timbul. Sayangnya banyak orang dengan cepat mengambil langkah dan tindakan, tetapi ketika suatu konsekuensi terjadi, barulah orang sadar.

Saya ingat dengan email dari rekan saya yang menuliskan moto hidupnya yang bagus, “Jangan belajar soal pentingnya keselamatan dari kecelakaan (don’t learn safety by accident)”.

Celakanya, justru itulah yang banyak terjadi dalam hidup kebanyakan orang. Ketika sakit, ketika mengalami malapetaka, ketika terjadi kecelakaan, barulah orang menjadi sadar dan insyaf akan perbuatannya yang salah.

Namun, hal itu sering kali sudah terlambat. Karena itulah, ambillah waktu untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dari sesuatu sebelum keputusan diambil.

Kedua, yakinlah Anda mampu dan berani menanggung risikonya, ketika konsekuensi terburuk dari pilihan Anda terjadi. Banyak orang membuat pilihan tetapi menolak menerimanya tatkala akibat buruk dari keputusannya terjadi. Ini artinya, mau enaknya saja.

Ketika suatu keputusan dan pi lihan dibuat, hal yang buruk bisa saja terjadi. Nah, siapkah Anda ketika hal buruk itu terjadi? Jika Anda belum siap, sebaiknya pikir lagi keputusan dan pilihan Anda.

Akhirnya, untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan, carilah referensi dan informasi. Saat ini ada banyak sumber informasi bahkan Anda pun bisa bertanya kepada orang yang pernah mengalaminya.

Semakin banyak informasi dan masukan, kadang memang bisa membuat bingung, tetapi makin banyak informasi, berarti pula Anda bisa punya banyak pertimbangan yang bisa membuat Anda membuat keputusan yang lebih baik.

Akhir kata, hanya sebuah saran sederhana: pikirkanlah sebelum terkena akibatnya, jangan terkena akibatnya baru berpikir.

Per­to­bat­an pen­cu­ri

Se­per­ti­ga ma­lam ada­lah ke­ge­lap­an pa­ling ke­kal di la­ngit. Ha­nya be­be­ra­pa orang, yang ka­re­na hi­da­yah-Nya, bi­sa ba­ngun dan per­gi ber­wu­du. Se­o­rang sua­mi mem­ba­ngun­kan is­tri­nya de­ngan me­mer­cik-mer­cik­kan air ke wa­jah is­tri­nya yang ter­ti­dur pu­las. Sang is­tri ha­nya meng­ge­li­at.
Na­mun sang sua­mi kem­ba­li me­nyu­ruh­nya ba­ngun un­tuk ber­wu­du.

Me­re­ka sa­lat ma­lam ber­sa­ma. Tak­bir se­ra­sa me­ra­yu di ke­he­ning­an ma­lam. Sa­lat pa­ra mu­ja­hi­din yang rin­du ingin me­li­hat wa­jah-Nya. Su­jud ingin men­cium sur­ga-Nya. Se­ke­jap, sua­sa­na di mu­sa­la ke­cil da­lam ru­mah itu men­ja­di se­nyap dan da­mai. Hing­ga tak me­ra­sa sa­at itu se­o­rang pen­cu­ri me­nye­li­nap ma­suk ha­la­man. Lang­kah­nya se­ri­ngan ku­cing dan ia mem­ba­wa ling­gis ke­cil un­tuk me­ngung­kit jen­de­la.

Pen­cu­ri itu ber­ha­sil me­lom­pat ma­suk ke da­lam ru­mah. Se­je­nak ia me­na­jam­kan pan­dang­an dan mem­bang­kit­kan in­stui­si­nya, di ma­na­kah le­tak ka­mar yang me­nyim­pan har­ta ber­har­ga.

Pen­cu­ri itu ber­pi­kir. Ru­mah ini mi­lik se­o­rang gu­ru ne­ge­ri. Se­o­rang pe­ga­wai pas­ti bu­kan orang mis­kin. Pas­ti ada har­ta ber­har­ga ter­sim­pan da­lam le­ma­ri atau la­ci.

Ia kem­ba­li ber­jing­kat. Sa­at se­lang­kah ber­ja­lan ia men­de­ngar sua­ra orang sa­lat. Pen­cu­ri itu ter­se­nyum. Ke­sem­pat­an ba­gi­nya men­ja­rah se­mua ba­rang de­ngan le­bih be­bas, pi­kir­nya.

Pen­cu­ri itu ma­suk ke se­buah ka­mar. Ada tem­pat ti­dur, la­ci dan me­ja tu­lis. Ia mem­bu­ka la­ci me­ja itu. Na­mun ia ha­nya me­ne­mu­kan ben­da-ben­da re­meh yang tak ber­gu­na ba­gi­nya.

Ia la­lu per­gi me­nu­ju ke ka­mar lain­nya. Ia me­ne­mu­kan le­ma­ri pa­kai­an. Bia­sa­nya, di be­be­ra­pa tem­pat yang per­nah ia ja­rah, ba­nyak per­hi­as­an di­sim­pan di le­ma­ri pa­kai­an. Tak me­nung­gu aba-aba lang­sung ia meng­ob­rak-ab­rik isi le­ma­ri itu.

Ta­pi di si­ni pen­cu­ri itu ha­nya me­ne­mu­kan pa­kai­an dan pa­kai­an. Itu­pun je­nis pa­kai­an bia­sa, mu­rah dan tak cu­kup ber­har­ga se­ka­li­pun di­ju­al ke tem­pat lo­ak.

Orang ma­cam apa yang ting­gal di si­ni. Bia­sa­nya pe­ga­wai ne­ge­ri se­nang pa­kai­an-pa­kai­an ba­gus, ce­la­na-ce­la­na ma­hal, pi­kir­nya.

Pen­cu­ri itu ber­si­jeng­kat ke­lu­ar. Ma­sih ada dua ka­mar. Ia ma­suk ke sa­lah sa­tu­nya. Di si­ni pun ha­nya ada gu­dang tem­pat se­pa­tu, se­pe­da mo­tor bu­tut dan alat olah­ra­ga. Tak ada ben­da ber­har­ga. Sa­ngat tak mung­kin mem­ba­wa se­pe­da mo­tor bu­tut yang ter­kun­ci itu.

Pen­cu­ri itu se­per­ti hi­lang ke­sa­bar­an. Ia me­ra­sa ge­ram. Ia ke­lu­ar me­nu­ju ke ka­mar ter­akhir. Ia me­mu­tus­kan akan meng­am­bil ben­da apa­pun asal­kan la­ku di­ju­al.

Di ka­mar ter­akhir pen­cu­ri itu mem­be­ra­ni­kan di­ri meng­hi­dup­kan lam­pu. Se­ka­rang se­mua te­rang ke­li­hat­an. Se­mua la­ci dan le­ma­ri lang­sung ia ob­rak-ab­rik tak pe­du­li. Ta­pi la­gi-la­gi di ka­mar ter­akhir ini, ia tak me­ne­mu­kan ben­da ber­har­ga, ha­nya bu­ku dan bu­ku yang ba­nyak me­me­nuhi di ka­mar ter­akhir ini.

Pen­cu­ri itu se­ma­kin ke­sal. Ia be­lum men­da­pat­kan ben­da ber­har­ga apa­pun. Pa­da­hal ru­mah ini ru­mah se­o­rang gu­ru ne­ge­ri. Ma­sak tak ada yang bi­sa ia am­bil.

Na­pas­nya mem­bu­ru, der­de­tak tak ber­atur­an. La­ki-la­ki ting­gi be­sar itu ter­pak­sa ke­lu­ar tan­pa ba­rang ja­ra­han. Aman. Ia tak te­per­gok. Ta­pi ia ma­sih ke­sal tak meng­gon­dol apa-apa.

Ti­ba-ti­ba ia men­de­ngar sua­ra pin­tu di­bu­ka. Ia me­na­jam­kan te­li­nga. Di­li­hat­nya da­lam ke­ge­lap­an ter­nya­ta le­la­ki pe­mi­lik ru­mah ke­lu­ar de­ngan mem­ba­wa tas yang ter­li­hat be­rat. Pen­cu­ri itu me­ra­sa pe­na­sa­ran. Ia ingin meng­ikuti ke ma­na le­la­ki itu per­gi ma­lam-ma­lam be­gi­ni de­ngan men­jin­jing tas. Ia men­da­pati ter­nya­ta le­la­ki itu me­le­tak­kan se­buah bung­ku­san di de­pan pin­tu se­buah ru­mah mi­lik se­o­rang jan­da.

Ia ingin ta­hu apa yang di­ta­ruh le­la­ki itu. Ba­ru se­te­lah le­la­ki itu per­gi si pen­cu­ri ber­ha­sil men­de­kat. Isi bung­ku­san ada­lah be­ras, be­be­ra­pa te­lur ser­ta dua bu­ah mi in­stan. Dan di be­be­ra­pa tem­pat lain yang ju­ga di­da­tangi le­la­ki itu, en­tah itu di tem­pat orang jom­po mau­pun orang mis­kin di ujung ja­lan atau di ru­mah anak ya­tim, pen­cu­ri itu ha­nya me­ne­mu­kan ba­rang yang sa­ma.

Da­lam ha­ti ia mem­ba­tin, pan­tas­lah pe­ga­wai itu ti­dak pu­nya ba­rang yang ma­hal-ma­hal di ru­mah­nya. Pa­da­hal de­ngan ga­ji se­o­rang gu­ru ne­ge­ri, pas­ti­lah ia mam­pu be­li pa­kai­an ba­gus, per­hi­as­an atau ken­da­ra­an yang se­tiap ta­hun ba­ru.

Pen­cu­ri itu be­nar-be­nar ter­ce­kat ke­ti­ka me­li­hat le­la­ki der­ma­wan itu me­nu­ju ke se­buah ru­mah. Le­la­ki itu ju­ga me­le­tak­kan bung­ku­san yang sa­ma. Na­mun cu­kup la­ma si pen­cu­ri itu tak ber­kua­sa meng­ge­rak­kan ka­ki­nya, pa­da­hal un­tuk ma­suk ke ru­mah­nya sen­di­ri.

Pen­cu­ri itu akhir­nya mem­bu­ka bung­ku­san yang di­ting­gal­kan sang le­la­ki der­ma­wan di ru­mah­nya itu. Ti­ba-ti­ba en­tah meng­apa sa­at mem­bu­ka ba­rang itu da­da­nya men­ja­di se­sak. Ia se­ka­rang be­nar-be­nar me­nye­sal ham­pir sa­ja men­ja­rah ru­mah orang yang mem­be­ri­nya se­de­kah.

Ia me­na­ngis hing­ga ter­du­duk di de­pan pin­tu. Ha­ti­nya ba­sah de­ngan pe­nye­sal­an. Ia ber­to­bat ke­pa­da Tu­han dan me­mu­tus­kan se­jak de­tik itu ti­dak akan men­ja­di pen­cu­ri la­gi. Ia ber­syu­kur ke­pa­da Tu­han ka­re­na mem­be­ri­nya hi­da­yah le­wat se­o­rang der­ma­wan bu­kan je­ru­ji be­si hu­kum­an

Mahasiswa Indonesia Juarai Lomba Kendaraan Irit BBM di Malaysia

img   img

Sepang, Malaysia – Datang ke Sirkuit Sepang, Malaysia sebagai juara bertahan, tim mahasiswa Indonesia berhasil menorehkan prestasi. Mereka merajai Kelas Urban di lomba irit BBM Shell Eco-marathon (SEM) Asia 2011.

Dalam siaran pers, Minggu (10/7/2011) kompetisi itu digelar di Sepang, Malaysia 6-9 Juli 2011. Tim mahasiswa Indonesia pun meraih berbagai penghargaan di kategori kendaraan Urban.

Yakni Mesin ITS 4 mendapatkan Grand Prize (juara utama) di kelas internal combustion dan Cikal ITB meraih Grand Prize di Urban Gasoline
Award.

Selain menyabet Grand Prize, Tim Mesin 4 yang mencatat jarak tempuh 150 km per liter menggunakan bahan bakar biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME), juga menjadi pemenang Alternative Diesel Award (penghargaan bahan bakar diesel alternatif).

Tim Cikal ITB dengan 117 km per liter selain mendapat Grand Prize, juga meraih Silver Award untuk kategori Internal Combustion Urban.

“Senang sekali kerja keras kami membuahkan hasil. Mudah-mudahan ITS bisa tetap mengukir prestasi dan mempertahankan tradisi juara di SEM Asia,” kata Eko Hardianto, ketua tim Mesin ITS 4.

Selain berjaya di kelas Urban, tim Indonesia juga mendapat 2 penghargaan dari 4 penghargaan yang diperebutkan di kategori On-Track (di luar arena sirkuit).

Tim Semar Proto Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasi menjadi yang terbaik dalam bidang Technical Innovation (Inovasi Teknis), sementara tim Rakata dari Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih Communications Award.

SEM Asia 2011 kali ini diikuti 94 tim pelajar dari 12 negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Pakistan, Vietnam, Iran, China, China Taipei, India dan Brunei Darussalam). Dari 94 tim tersebut hanya 38 tim yang berhasil menyelesaikan lomba.

Dalam ajang SEM Asia 2011 yang berlangsung 6-9 Juli, Indonesia diwakili oleh Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Rekor Kendaraan Irit BBM

Sementara kendaraan paling irit BBM di Asia kali ini kembali dipegang oleh Thailand.

Tim Thailand yakni Luk Jao Mae Khlong Prapa memecahkan rekor baru untuk kendaraan irit BBM.

Kendaraan prototipe mereka bisa menembus rekor 2.213,4 kilometer per liter etanol. Cukup untuk mengendarai dari Kuala Lumpur ke Chang Mai Thailand.

Rekor tahun lalu mencapai 1.521,9 km/liter yang juga dibukukan oleh tim dari Thailand Kang Thabbok Upatham Changkol Kho So Tho Bo School.

Berikut spesifikasi dari 10 kendaraan hemat BBM ini

Kendaraan dari UI

1. Garuda Kesavha Evolution

Sasis: Semi monocoque
Bodi: fiberglass
panjang tinggi dan lebar: 273 cm, 80 cm dan 80 cm
wheelbase: 187 cm
berat tanpa pengemudi: 50 kg
rim: 14 inci
mesin: Suzuki Smash Titan 115 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 1.000 km per liter

2. Kalabia (Nama diambil dari bahasa Papua yang artinya Hiu)

Sasis: Semi monocoque
Bodi: fiber/akrilik
panjang tinggi dan lebar: 248 cm,120 cm dan 123 cm
wheelbase: 148 cm
berat tanpa pengemudi: 120 kg
rim: 14 inci
mesin: Shogun 125 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 500 km per liter

Kendaraan dari UGM

1. Semar Prototype

Sasis: Aluminium
Bodi: fiberglass
panjang tinggi dan lebar: 300 cm, 70 cm dan 110 cm
wheelbase: 160 cm
berat tanpa pengemudi: 50 kg
rim: 14 inci
mesin: 4 langkah, 1 silinder 90 derajat, 110 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: di atas 280 km per liter

2. Semar Urban


Sasis: Aluminium
Bodi: fiberglass
panjang tinggi dan lebar: 250 cm, 110 cm dan 125 cm
wheelbase: 137,5 cm
berat tanpa pengemudi: 100 kg
rim: 14 inci
mesin: 4 langkah, 1 silinder 100 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 300 km per liter

Kendaraan dari ITB

1. Cikal Nusantara


Sasis: Aluminium
Bodi: serat karbon
panjang tinggi dan lebar: 250 cm, 110 cm dan 128 cm
wheelbase: 100 cm
berat tanpa pengemudi: 150 kg
rim: 16 inci
mesin: ICE 110 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 100 km per liter

2. Rakata

Sasis: Full monocoque
Bodi: serat karbon
panjang tinggi dan lebar: 280 cm, 56 cm dan 77 cm
wheelbase: 104 cm
berat tanpa pengemudi: 60 kg
rim: 17 inci
mesin: 125 cc
Bahan bakar: etanol
Target di SEM: 600 km per liter

Kendaraan dari ITS

1. Sapu Angin 3

Sasis: Aluminium custom
Bodi: fiberglass/polyurethan foam
panjang tinggi dan lebar: 260 cm, 112 cm dan 125 cm
wheelbase: 150 cm
berat tanpa pengemudi: 90 kg
rim: 17 inci
mesin: Honda Revo 110 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 300 km per liter

“Kami sudah memperbaiki dari sisi elektronik dan berat kendaraan, sehingga kami harapkan nanti kami mendapat angka yang lebih baik,” ujar team Manager ITS Anditya Yudhistira.

2. Sapu Angin 4:


Sasis; aluminium
bodi: fiberglass/polyurethan foam
panjang tinggi dan lebar: 260 cm, 112 cm dan 125 cm
wheelbase: 150 cm
berat tanpa pengemudi: 90 kg
rim: 17 inci
mesin: Mesin diesel 210 cc
Bahan bakar: solar
Target di SEM: 300 km per liter

“Ini satu-satunya mobil dari tim Indonesia yang memakai bahan bakar solar. Kami sudah melakukan perbaikan dari kestabilan dan titik berat yang merata,” ujar Team Manager Eko Hardianto.

3. Sapu Angin 5

Sasis: Aluminium
Bodi: fiberglass/polyurethane foam
panjang tinggi dan lebar: 280 cm, 60 cm dan 108 cm
wheelbase: 149 cm
berat tanpa pengemudi: 40 kg
rim: 21 inci
mesin: Mesin Paijo 90 cc yang dikembangkan sendiri oleh mahasiswa ITS
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 1.500 km per liter, di SEM 2010 mencapai 234 km per liter.

“Unit controlnya sudah diperbaiki dan masalah kestabilan dipecahkan dengan menambah turning radius,” ujar Team Manager Rahmad Hidayat.

Kendaraan dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep)

Sasis: st42
Bodi: fiberglass
panjang tinggi dan lebar: 312 cm, 70 cm dan 108 cm
wheelbase: 203,5 cm
berat tanpa pengemudi: 42,4 kg
rim: 16 inci
mesin: SOHC 4 langkah 35 cc
Bahan bakar: bensin
Target di SEM: 1.500 km per liter

Sumber: Detik

INIKAH PENYEBAB MOBIL INJEKSI BOROS BBM

 

 

Pembatasan BBM bersubsidi ditangguhkan untuk waktu yang tidak ditentukan. Tetapi bukan berarti pemilik mobil injeksi bisa bebas dari rutinitas perawatan. Biar bagaimanapun, konsumsi bahan bakar bergantung dari sistem pasokannya.

Kalau sistem injeksi bermasalah, performa mesin ikut drop. Parahnya, penyakit akan merembet ke bagian lain bak virus ganas. Otomatis konsumsi ikut boros. Ini dia bahaya perusak komponen yang mengganggu iritnya konsumsi BBM.

Tangki Bahan Bakar
Meski sepintas terlihat tak berbahaya, sebenarnya tangki bahan bakar bisa dikategorikan sebagai sumber dari segala penyakit mesin injeksi. Sebagai wadah penampungan bensin, bisa saja tangki bahan bakar tercemar akibat kotoran atau unsur non bensin seperti minyak, air atau pasir selama bertahun-tahun.Lakukan prosedur turun tangki untuk proses pengurasan setiap 100.000 kilometer. Terlebih bila mobil kesayangan kerap meminum Premium-TT. Kandungan lumpur atau air kerap tertinggal di dasar tangki yang sewaktu-waktu bisa tersedot pompa bahan bakar.

Pompa Bahan Bakar
Besutan zaman sekarang, mengadopsi pompa bahan bakar yang ditanam ke dalam tangki bahan bakar. Bisa dibayangkan, seumur hidupnya terendam bensin.

Bila pompa bahan bakar melemah akibat kotoran yang tersedot, dipastikan mesin ikut Indikasinya bisa dilihat dari tekanan di fuel pressure regulator. Bila tekanan kurang dari 2 Bar, sangat mungkin pompa bahan bakar bermasalah. Bisa karena sudah lemah atau kinerjanya terganggu faktor lain.

Filter Bensin
Pada beberapa tipe mobil, filter bensin lazim menyatu alias gabung dengan pompa bahan bakar, tetapi ada juga yang memakai model terpisah. Bicara filter terpisah, penyaring kotoran bahan bakar ini jelas memiliki umur pakai. Gunakan filter bensin orisinal dengan jangka waktu sekitar 100 ribu kilometer. Bila dalam keseharian, mobil kesayangan lebih sering memakai BBM beroktan rendah alias Premium-TT, persingkat umur pakai menjadi 75 ribu kilometer.

Nosel Injeksi
Komponen ini merupakan gerbang utama bagi bahan bakar untuk memenuhi ruang bakar. Nosel injeksi yang sudah menurun performanya akan mengucurkan bensin ke ruang bakar, bukannya menyemprotkan kabut (mist).
Indikasi bisa terlihat dari sisa gas buang akan ngebul hitam pertanda terlalu banyak bensin yang tidak terbakar.
Hal ini lantaran mulut nosel yang sangat kecil sudah tersumbat (clogging) oleh kotoran dari bahan bakar dalam jangka waktu lama. Efeknya jarum nosel yang seharusnya bekerja ‘buka-tutup’ malah macet.
Clogging pada injector menjadi penyebab borosnya bahan bakar.

Throtlle Position Sensor
Alat pemantau pergerakan skep atau butterfly dari throttle body. Sensor ini akan membaca besarnya bukaan skep sehingga bisa untuk menentukan derajat waktu pengapian karena berhubungan langsung dengan banyaknya volume udara yang masuk ke ruang bakar.
Bila permukaan throttle position sensor kotor akibat kotoran seperti debu atau minyak, jelas akan menghambat kinerja sistem injeksi lainnya. Selain performa tak bisa maksimal, konsumsi juga akan menjadi boros.
Peranti ini jarang rusak alias berumur tahunan, tetapi namanya barang elektronik yang memiliki sensor pastinya memiliki usia pakai juga. Untuk itu pastikan usia pakai bisa lama dengan memperhatikan filter udara yang menjadi penyaring udara luar yang akan masuk ke ruang bakar dan melewati TPS.

Throtlle Body
Pada mobil dengan pasokan bahan bakar karburator, dikenal istilah skep. Sebutan ini agak berbeda dengan mobil injeksi, meski kerjanya sama. Lantaran throttle body berhubungan langsung dengan udara dari luar, skep mobil injeksi ini lazim kotor oleh debu dan kotoran halus yang tak tersaring filter udara.
Bersihkan dengan injector cleaner dengan cara menyemprotkan cairan pembersih dalam bentuk aerosol tadi persis di permukaan throttle body, agar lapisan debu dan kotoran yang hinggap di atas permukaan bisa hilang.
Lakukan setiap 50.000 kilometer untuk hasil terbaik. Jadikan kebiasaan saat mengganti filter udara di rumah atau di bengkel kepercayaan. Prosesnya sendiri hanya memakan waktu lima menit.

Sensor Oksigen
Sebagian besar besutan injeksi zaman sekarang dibekali sensor oksigen. Fungsinya untuk membaca hasil sisa gas buang yang keluar lewat knalpot. Alat ini berguna untuk membaca kaya dan miskin campuran bahan bakar.
Pada saat sensor oksigen membaca sisa gas buang yang kelewat ‘pedas’ alias kebanyakan bensin, sensor akan mengirim sinyal ke ECU untuk mengurangi debit bahan bakar ke ruang bakar.
Biasanya kerusakan karena penampang sensor tertutup jelaga sisa pembakaran. Mau tak mau harus beli baru. Harganya tak terlalu mahal, tetapi biasanya beli set (sepasang) agar umur pakai bisa sama.

FPR
Peranti yang mengatur tekanan bahan bakar yang mengalir ke fuel rail (jalur bahan bakar untuk nosel injektor). Fuel pressure regulator (FPR) versi pabrikan biasanya dibuat paten antara 2-5 Bar. Tetapi yang versi aftermarket bisa disetel sesuai kebutuhan.

Bila sudah lemah, berarti membran karet di dalam FPR tak bisa lagi menahan tekanan bahan bakar yang disembur pompa bahan bakar. Akibatnya tekanan berkurang untuk bisa menyemburkan kabut bensin ke ruang bakar. Indikasinya, mesin akan mbrebet di rpm tertentu.

Untuk versi aftermarket, FPR bisa disetel hingga tekanan di atas rata-rata spesifikasi pabrik untuk hasil semburan kabut bahan bakar yang lebih tebal dan lama. Performa meningkat tetapi berbanding lurus dengan konsumsi bahan bakar.

PINTU HIDAYAH

Ma­lam itu, se­o­rang la­ki-la­ki mu­da per­gi ke are­na sa­bung ayam. Tak ter­hi­tung be­ra­pa ka­li ia meng­un­jungi are­na ju­di ter­se­but.

Ia se­o­lah ti­dak pe­du­li de­ngan aga­ma se­hing­ga ham­pir se­ba­gi­an be­sar wak­tu­nya di­isi de­ngan ke­nis­ta­an, ma­buk-ma­bu­kan, ju­di hing­ga sa­bung ayam se­per­ti hal­nya ma­lam itu.

Ma­lang ba­gi pe­mu­da itu. Ma­lam itu, are­na ju­di sa­bung ayam yang ia da­tangi di­ge­re­bek orang kam­pung dan pi­hak ke­aman­an. Pe­mu­da itu ti­dak ting­gal di­am, ia la­ri tung­gang-lang­gang tan­pa arah me­nye­la­mat­kan di­ri da­ri ke­jar­an orang-orang.

Di te­ngah ke­ta­kut­an­nya sam­pai­lah ia di te­pi su­ngai dan tan­pa pi­kir pan­jang pe­mu­da itu ter­jun ke su­ngai. Lan­tar­an ti­dak mun­cul-mun­cul ke per­mu­ka­an, orang-orang yang me­nge­jar­nya me­ngi­ra pe­mu­da itu te­lah me­ning­gal di da­lam su­ngai.

Orang­tua pe­mu­da itu se­be­nar­nya su­dah pas­rah ji­ka anak­nya ter­tang­kap. Me­li­hat ting­kah anak­nya se­la­ma ini, me­re­ka se­o­lah su­dah ti­dak mem­pe­du­li­kan anak­nya.

Tak di­sang­ka, pe­mu­da itu ma­sih bi­sa se­la­mat lan­tar­an ia ter­ja­tuh di tem­pat yang di­tum­buhi ta­na­man kang­kung. Ia ber­ta­han hi­dup di da­lam air se­te­lah ber­na­pas meng­gu­na­kan ba­tang kang­kung yang arah­kan ke per­mu­ka­an su­ngai.

Se­te­lah ke­ada­an aman, pe­mu­da itu la­lu me­ne­pi. Be­gi­tu sam­pai di te­pi su­ngai, ia men­de­ngar sua­ra azan da­ri mas­jid di se­be­rang. Azan yang ber­ku­man­dang pa­da si­tua­si sa­at itu ru­pa­nya me­nyen­tuh ha­ti­nya dan me­nun­tun­nya me­ra­ih pin­tu hi­da­yah.

Seu­sai men­de­ngar azan, pe­mu­da itu ber­ge­gas pu­lang. Ia ke­mu­di­an sa­lat Su­buh. Se­te­lah itu, ia ber­ge­gas men­da­tangi orang­tua­nya.

“Sa­ya min­ta ma­af,” ujar pe­mu­da itu ke­pa­da orang­tua­nya.

Per­min­ta­an ma­af itu ten­tu sa­ja me­nge­jut­kan orang­tua­nya. Me­re­ka yang se­la­ma ini su­dah pas­rah de­ngan ke­na­la­kan anak­nya ti­dak me­nyang­ka anak­nya ti­ba-ti­ba ber­ubah. Pa­da­hal, si­ang­nya anak­nya ma­sih ber­buat se­su­ka­nya tan­pa atur­an dan men­jeng­kel­kan. Na­mun, Su­buh itu ber­ubah.

Se­te­lah me­min­ta ma­af, pe­mu­da itu me­min­ta ke­pa­da orang­tua­nya di­ki­rim be­la­jar aga­ma. Ten­tu sa­ja per­min­ta­an itu lang­sung di­ka­bul­kan dan pe­mu­da itu akhir­nya di­ki­rim ke Me­sir.

Se­jak sa­at itu hi­dup­nya ber­ubah, iba­dah­nya se­ma­kin ra­jin dan te­kun men­da­lami aga­ma hing­ga men­ja­di ula­ma ter­ke­nal yang kha­ris­ma­tik dan cu­kup di­se­ga­ni ser­ta men­ja­di sa­lah sa­tu ula­ma ah­li fa­lak In­do­ne­sia.

Pe­mu­da itu ber­na­ma Ja­mil Jam­bek, ula­ma pem­ba­ha­ru Ta­nah Mi­nang. Mes­ki­pun ber­aga­ma Is­lam na­mun ke­hi­dup­an mu­da­nya ka­la itu ja­uh da­ri tun­tun­an aga­ma. Ka­re­na ke­na­kal­an­nya, orang­tua­nya bah­kan su­dah ti­dak sang­gup meng­atasi anak­nya.

Ki­sah itu me­nu­rut Wa­kil Ke­tua Mu­ham­ma­di­yah, Su­ba­ri, mem­be­ri ba­nyak hik­mah di an­ta­ra­nya.

Per­ta­ma, orang­tua dan gu­ru ke­ti­ka me­li­hat dan meng­ha­dapi se­o­rang anak yang na­kal dan ter­je­ru­mus da­lam ku­bang­an do­sa hen­dak­nya ti­dak mem­ben­ci anak ter­se­but. Se­ba­lik­nya, orang­tua dan gu­ru ha­rus se­la­lu sa­bar da­lam mem­bi­na anak­nya mes­ki­pun da­lam ke­ada­an na­kal se­ka­li­pun ser­ta ja­ngan ber­hen­ti ber­doa.

Per­ca­ya­lah bah­wa Al­lah SWT ma­sih mem­bu­ka pin­tu hi­da­yah yang bi­sa da­tang ka­pan pun dan tan­pa per­ki­ra­an se­per­ti yang dia­la­mi Ja­mil Jam­bek, me­ra­ih hi­da­yah se­te­lah se­la­mat da­ri in­car­an maut dan men­de­ngar sua­ra azan. Ku­man­dang azan mung­kin bi­sa di­de­ngar se­tiap ha­ri na­mun da­lam ke­ada­an ter­ten­tu se­per­ti yang dia­la­mi Ja­mil Jam­bek ka­la itu, sua­ra azan bi­sa meng­ge­tar­kan ha­ti­nya.

Meng­ha­dapi anak na­kal, orang­tua ja­ngan bo­san me­la­ku­kan usa­ha per­sua­sif. Wa­lau ba­gai­ma­na pun anak me­ru­pa­kan tang­gung ja­wab orang­tua­nya atau gu­ru yang men­di­dik­nya,

Ke­dua, ki­sah Ja­mil Jam­bek bi­sa men­ja­di te­la­dan ba­gi pa­ra pem­bu­at mak­si­at. Ke­ti­ka ber­buat mak­si­at, iman se­se­o­rang iba­rat ter­bang dan bia­sa­nya da­lam ke­ada­an ter­se­but, orang yang ber­buat mak­si­at cen­de­rung se­ring me­nan­tang bah­kan meng­abai­kan hi­da­yah.

Hi­da­yah itu bi­sa da­tang ke­pa­da sia­pa sa­ja, ke­ti­ka hi­da­yah itu da­tang ikuti­lah,

Ke­ti­ga, ti­dak ada ka­ta ter­lam­bat ba­gi se­se­o­rang un­tuk mem­per­bai­ki di­ri atau mem­bi­na di­ri men­ja­di ma­nu­sia yang ba­ik, alim dan ber­man­fa­at mes­ki­pun se­be­lum­nya hi­dup da­lam ge­li­mang do­sa.

Be­gi­tu ju­ga, ti­dak ada ka­ta ter­lam­bat ba­gi se­se­o­rang un­tuk me­nun­tut il­mu. Tak pe­du­li tua mu­da, asal­kan te­kun dan sung­guh-sung­guh akan ber­ha­sil se­per­ti yang ter­ja­di pa­da Ja­mil Jam­bek.

Ja­mil men­ja­di orang alim bah­kan ke­a­lim­an­nya ju­ga me­nu­run ke­pa­da anak­nya. Sa­lah sa­tu anak­nya, KH Sa’adud­din Jam­bek di­ke­nal se­ba­gai ula­ma dan ah­li fa­lak yang mem­bu­at jad­wal sa­lat aba­di.